dangiangkisunda.com – Bakal calon Wakil Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meneruskan kebiasannya blusukan ke pelosok daerah di Jawa Barat. Sebagaimana diketahui, selain membawa karavan seni, Bupati Purwakarta dua periode tersebut sering bersama dai terkenal menggelar kegiatan tabligh akbar.

Seorang kakek bernama Wasmad (65) membuat salah satu kader terbaik Nahdhatul Ulama di Purwakarta itu kebingungan. Pasalnya, kakek asal Losari itu tidak kunjung menerima permintaannya untuk naik ke atas panggung dakwah Ustadz Soleh Mahmud.

Ternyata, sang kakek tidak mengerti bahasa Sunda yang diucapkan Dedi Mulyadi karena terbiasa menggunakan bahasa Jawa. Peristiwa itu terjadi pada Kamis (25/1) di Desa Cikulak, Kecamatan Waled, Kabupaten Cirebon.

“Saya tanya pakai bahasa Sunda, jawabnya pakai bahasa Jawa. Saya pakai bahasa Indonesia, eh kakek malah pakai bahasa Sunda,” ujar Dedi di hadapan kakek asli Brebes, Jawa Tengah itu.

Kepada Dedi, Wasmad menceritakan bahwa dirinya sengaja datang ke pengajian untuk mengisi waktu usai melakoni aktifitas mencari rumput. Lantaran sudah tidak mampu berjalan jauh akibat dimakan usia, ia mengaku rela mengeluarkan ongkos untuk menyewa ojek.

“Abis pulang nyabit rumput buat kambing. Tahu ada pengajian, dikasih tahu tetangga. Ya, kesini saja pakai ojek, bayar Rp50 ribu,” katanya.

Beberapa kambing milik tetangganya biasa ia rawat sehari-hari. Wasmad berkeliling mencari rumput di seputar perbatasan Cirebon dan Brebes. Upah atas jerih payahnya ia peroleh dengan sistem ‘maro’, setiap lahir dua anak kambing, dia mendapatkan satu dari majikannya.

“Iya, sistem maro, jadi nanti dapat satu kambing kalau beranak. Saya kadang-kadang bantu orang tanam bawang juga,” tuturnya.

Kondisi fisik yang telah dimakan usia tidak menyurutkan semangat Wasmad untuk menciptakan perubahan dalam kehidupannya sehari-hari. Dedi menjelaskan bahwa Indonesia bisa hebat karena “Wasmad – Wasmad” di tempat lain.

“Inilah ciri orang Indonesia, selalu mau bekerja keras. Seharusnya, kita malu kepada Abah Wasmad. Ia memiliki spirit perubahan dalam hidupnya meskipun dengan kondisi berjalan yang sudah tertatih,” kata Dedi.

Kegemarannya berkeliling Jawa Barat sejak Tahun 2013 menurut Dedi, merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan perubahan yang lebih baik. Dalam satu malam, kata dia, selalu ada satu perubahan.

“Mohon maaf, tidak semua jamaah yang hadir disini mendapatkan bantuan. Tetapi minimal, dalam satu malam kita bisa melahirkan satu perubahan. Malam ini, kehidupan Abah Wasmad Insya Allah berubah,” tandasnya.

Wasmad mendapatkan bantuan modal peternakan sebesar Rp9 Juta. Dedi mengamanatkan agar uang tersebut dibelikan 4 ekor kambing betina dan 1 ekor kambing jantan. Sehingga, Wasmad kini menggembalakan kambing miliknya sendiri, bukan kambing milik orang lain.(red)

Leave a Reply

Your email address will not be published.