image

dangiangkisunda.com – Kongres Hak Asasi Manusia tentang Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) telah selesai digelar dengan hasil pelaporan yang mengejutkan. Yakni menempatkan Jawa Barat sebagai provinsi paling intoleran di Indonesia.

Mengapa gelar yang diberikan tersebut mengejutkan? Karena, Jawa Barat yang merepresentasikan tanah dan orang Sunda – secara administratif maupun geografis – dalam sejarah peradaban dan keberadabannya sangat toleran.

Sikap toleran ini meliputi beberapa hal. Pertama, toleransi kepemimpinan. Sebagai orang yang tinggal di daerah pegunungan dan pedataran, masyarakat Sunda terinspirasi prinsip-prinsip air sebagai sumber inspirasi kehidupan. Yakni berwatak dingin, jernih, mengalir mengikuti kelok dan lekuk yang ujungnya melahirkan karakter masyarakat Sunda yang lembut, terbuka dan menyejukkan.

Begitupun dalam sejarah peradabannya. Masyarakat Sunda tidak memiliki sifat merebut, mendominasi, dan menguasai, sehingga tidak ada catatan buruk sejarah yang bersifat imperium dalam karakter kepemimpinan dan kemasyarakatan.

image

Yang kedua, toleransi keyakinan. Orang Sunda menganut sistem keyakinan yang berasal dari nilai-nilai kultural yang memiliki basis alam dan lingkungan kebudayaan. Kondisi ini membentuk karakter dan sifat berserah diri secara total dalam melakukan penghambaan kepada Hyang Tunggal.

Penghambaan tersebut meliputi penghambaan batiniah yang bersifat personal dan individual kepada Sang Maha Tunggal. Biasanya diwujudkan secara ragawiah dengan ketaatan diri pada apa yang menjadi ketentuan alam; ketentuan air, ketentuan angin, ketentuan matahari, dan ketentuan tanah yang bermuara pada puseur atau pusat dari seluruh ketentuan atas kehendak Hyang Tunggal.

Sistem ketuhanan yang dibangun ini pula yang melahirkan sistem sosial bersifat komunal. Bagaimana penghambaan tanpa pengakuan, sehingga hampir seluruh piranti kehidupan masyarakat Sunda dilakukan dan ditata secara komunal. Bahkan hak-hak kepemilikian bersifat relatif karena kemutlakannya adalah milik Hyang Tunggal.

Sifat terbuka dari masyarakat Sunda inipun pada akhirnya melahirkan sistem kehidupan yang berbasiskan nilai silih asah, silih asih, silih asuh; saling mencerdaskan, saling mengasihi, dan saling mengayomi. Sifat tersebut melahirkan perilaku sosial nulung kanu butuh, nalang kanu susah, nganteur kanu sieun, nyaangan kanu poékeun (menolong pada yang memerlukan, memberi pada yang kesusahan, memberi cahaya kepada yang mengalami kegelapan).

Sistem yang terbuka ini pun memberikan ruang yang luas pada kaum migran untuk hidup secara damai di tanah Sunda. Itu terlihat dari berdirinya berbagai tempat yang berlatar belakang nama asing atau dibangunnya tempat ibadah seperti candi dan kelenteng.

image

Pembangunan tersebut merupakan refleksi kebebasan beribadah kaum migran yang secara tidak langsung memberikan sebuah gambaran, bagaimana masyarakat Sunda sangat terbuka terhadap tumbuh dan berkembangnya berbagai keyakinan di tanahnya sendiri.

Sikap orang Sunda ini berangkat dari sifat dan perilaku yang humanis dan watak kekeluargaan yang memahami perilaku kaum migran sama dengan memahami dirinya sendiri. Namun implikasinya, berdampak pada watak dan dominasi kaum migran dan urban yang menghuni tanah Sunda.

Sifat diam dan cenderung menghindari kegaduhan dengan prinsip caina hérang, laukna beunang (airnya jernih, ikannya dapat) telah melahirkan sebuah kultur masyarakat yang terdominasi iklim perubahan yang terus berjalan dengan cepat.

Kegaduhan “intoleransi” yang terjadi,  berpusat pada beberapa wilayah perkotaan yang berkarakter urban dan migran. Namun bisa juga, kegaduhan ini terjadi karena saking tolerannya masyarakat Sunda.

Penulis: Dedi Mulyadi

Leave a Reply

Your email address will not be published.