Dangiangkisunda.com – Masyarakat Kabupaten Tasikmalaya terlihat antusias melakukan penyambutan untuk Calon Wakil Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Mereka memberikan suguhan kesenian khas daerah kepada mantan Bupati Purwakarta dua periode tersebut.

Tokoh masyarakat Desa Kersamaju, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, Abah Maman (62) menjelaskan ihwal jenis kesenian tersebut.

Menurut dia, kesenian yang terdiri dari tabuhan rebana, terebang (rebana besar), bonang, kendang dan gong itu merupakan hasil akulturasi budaya.

Dua produk kebudayaan Arab dan Sunda itu bersinergi menciptakan alunan musik ritmik yang penuh semangat. Hal ini menunjukan spirit, antusiasme dan kebanggaan bagi masyarakat sekitar karena kedatangan Dedi Mulyadi sangat diharapkan.

“Pak Dedi berhasil membangun Purwakarta dengan menjaga nilai tradisional. Terus terang saja, itu membuat kami di sini terharu, karena ternyata masih ada pemimpin yang memperhatikan nilai-nilai itu. Kami menginginkan, nilai dalam kearifan lokal diakomodir dalam pembangunan di Jawa Barat,” katanya, Rabu (9/5/2018).

Suasana hening perbukitan di Gunung Satria, lokasi desa tersebut, membuat resonansi tabuhan alat-alat kesenian itu terdengar nyaring. Ditambah, kawasan tersebut sangat asri dan sejuk karena dikelilingi hamparan perkebunan teh dan hutan pinus.

Gotong Royong Lahirkan Desa Wisata

Umumnya kultur pedesaan, spirit goyong royong di desa tersebut masih sangat kental. Warga ramai-ramai memasak nasi tumpeng dan penganan khas Priangan, Jawa Barat untuk disantap bersama Dedi Mulyadi.

Sebagai calon pemimpin Jawa Barat, Dedi Mulyadi tidak ingin mengabaikan potensi tersebut. Dia berkeinginan agar seluruh khazanah kultur di desa itu dimaksimalkan menjadi destinasi wisata.

“Identitas Jawa Barat itu ada di desa ini. Ada gotong royong, ada toleransi kebudayaan. Masyarakat tidak canggung mengakulturasikan kebudayaan luar dengan Sunda, tentu dengan penyesuaian-penyesuaian. Karena itu, ini bisa berkembang menjadi daerah wisata,” kata Dedi.

Proyeksi Koordinator Presidium KAHMI Jawa Barat tersebut bukan tanpa dasar. Kontur wilayah perbukitan dikelilingi perkebunan teh dan pinus menjadi potensi tersendiri untuk dimaksimalkan.

Apalagi, jika rumah penduduk setempat ditata ulang dengan konsep rumah panggung dan arsitektur khas Jawa Barat ‘Julang Ngapak’. Konsep ini, menurut Dedi Mulyadi, dapat menjadi daya tarik tersendiri.

“Arsitektur bangunan di sini bisa ditata ulang dengan konsep khas Jawa Barat. Jadi, daerah ini menjadi destinasi wisata murni berbasis kultur,” ucapnya.

Warga sekitar akan mendapatkan dua penghasilan sekaligus jika konsep ini terwujud. Pertama, dari hasil memetik teh, kedua dari hasil sewa kamar di rumah warga karena wisatawan diarahkan untuk menginap di sana.

“Taraf ekonomi warga bisa meningkat drastis, wisatawan bisa menginap di rumah warga setelah menikmati wisata petik teh. Penghasilan warga dari hasil memetik teh juga tidak hilang,” pungkasnya.(red)

Leave a Reply

Your email address will not be published.