image

dangiangkisunda.com – Bupati Purwakarta, Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengomentari proses demokrasi menjelang pemilihan Gubernur DKI Jakarta, yang saat ini sedang ramai-ramai di media sosial terkait isu yang terus mengarah pada persoalan keyakinan seseorang.

Menurut pria yang dikenal dengan Budayawan Jawa Barat  tersebut  mengaku sungguh menyesalkan, Jakarta yang menjadi trendsetter Indonesia masih belum bisa mencerminkan sikap berdemokrasi dengan sehat.

“Hari ini terjadi proses demokrasi di Jakarta yang masih mengarah stigma rasis. Saya berharap Jakarta sebagai pusat segalanya Indonesia. Bisa mengajarkan demokrasi, pluralisme dan  Jakarta menjadi inspirasi,” ungkap Kang Dedi, kepada sejumlah awak media, senin (14/3/16).

Dikatakan Dedi, jika nilai agama selalu dibawa menjadi pertarungan politik, Maka hal tersebut tidak akan memberikan pendidikan terhadap masyarakat. Sebelumnya memang diakui Dedi, dia pun pernah merasakan hal yang sama pada saat dirinya, saat  mencalonkan periode kedua Bupati Purwakarta, dirinya dikecam dengan isu miring tentang agama.

“Ya kondisi itu sekarang sedang ramai di Jakarta, masing-masing seseorang menyerang dari aspek agama,” ujarnya.

Semestinya sambung Dedi, persoalan rasis yang terjadi saat ini tidak boleh di publikasi melalui media, persoalan perdebatan ke agamaan cukup menjadi konsumsi internal saja.

“Bahwa persoalan pandangan seseorang tentang pemimpin, sebaiknya tidak disampaikan yang bersifat publiksitas,” jelasnya.

Dedi memberikan saran, untuk menyelesaikan persoalan kampanye yang selalu dikaitkan dengan nilai agama. Sebaiknya Pemerintah turun tangan untuk mengatur tata cara kampanyen calon-calon pemimpin di Indonesia.

“Pemerintah secara tegas melakukan larangan, perang opini politik dengan jargon agama,” pungkasnya.(Amh)

Leave a Reply

Your email address will not be published.