dangiangkisunda.com – Calon Wakil Gubernur Jawa Barat Dedi Muyadi mengikuti kegiatan ‘Ngikis’ di situs sejarah Ciung Wanara, Karangkamulyan, Ciamis, Senin (7/5/2018).

‘Ngikis’ merupakan kegiatan rutin yang digelar oleh masyarakat setempat dalam rangka ‘munggahan’ atau menjelang masuk Bulan Suci Ramadhan.

Biasanya, ‘Ngikis’ dilaksanakan pada Senin atau Kamis terakhir pada Bulan Sya’ban dalam perhitungan kalender Hijriyah. Secara substansi, Acara tersebut berisi ikrar untuk tidak melakukan perbuatan tidak terpuji terutama selama berpuasa di Bulan Ramadhan.

Dalam acara itu, pagar yang membatasi bagian dalam situs sejarah Ciung Wanara juga diganti. Kearifan warga sekitar menyebut prosesi ini dengan istilah ‘Mager’.

Lantunan dzikir, shalawat, dan kidung berisi pesan kepasrahan kepada Allah swt terdengar menggema selama kegiatan berlangsung. Karenanya, suasana khidmat dan sakral kontan menyelimuti tempat digelarnya acara.

Air yang bersumber dari berbagai mata air yang tersebar di Kabupaten Ciamis pun disatukan dalam acara ‘Ngikis’.

Menurut Dedi Mulyadi, ‘Ngikis’ harus menjadi momentum bagi orang Jawa Barat untuk mengingat dua hal. Pertama, sebagai refleksi sejarah, kemudian yang kedua sebagai ikhtiar manusia memelihara alam sekitar.

“Ada dua hal yang harus diingat, ini tentang sejarah orang Jawa Barat, mereka pernah dipimpin oleh raja yang arif dan bijak. Kemudian, kegiatan ini juga harus menjadi pengingat bagi kita untuk menjaga lingkungan,” katanya.

Situs Ciung Wanara memang terletak di dalam kawasan hutan lindung seluas kurang lebih 25 hektar. Lokasinya tepat di pinggir Sungai Citanduy – Cimuntur yang menyimpan kisah Kerajaan Galuh pada masa lalu.

Tarik Wisatawan ke Jawa Barat

Dedi sendiri melihat peluang besar terhadap kegiatan ‘munggahan’ sejenis di berbagai daerah di Jawa Barat. Menurut dia, kegiatan berbasis kearifan lokal dan religi dapat menarik minat wisatawan untuk berkunjung.

“Kita dorong kegiatan ini dan kegiatan sejenis lain di Jawa Barat sebagai event pariwisata. Ini kultural banget, sekaligus religi,” katanya.

Proyeksi Dedi Mulyadi itu sekaligus menjadi harapan tokoh masyarakat setempat, Abah Ali. Dia berharap ada pemimpin Jawa Barat yang mampu mengangkat kembali harkat dan martabat kearifan lokal.

Pihaknya tidak menginginkan ada pemimpin yang sekedar mengaku-ngaku berkarakter Jawa Barat tetapi kesehariannya tidak menjadi tauladan.

“Semoga nanti ada pemimpin yang betul-betul memahami budaya dan sejarah Jawa Barat. Jangan hanya mengaku-ngaku saja,” pungkasnya.(red)

Leave a Reply

Your email address will not be published.