Ketua RT dan Hansip

DangiangKiSunda.Com – Berapa porsen warga yang bersedia jadi Ketua RT ? Jika disurvei, mungkin sulit untuk mendapatkan angka 10 persen.  Kesan umum terhadap jabatan tersebut masih ngeri-ngeri menyedihkan: “Ngapain jadi RT. Kerja melayani warga 24 jam sehari, 30 hari penuh dalam satu bulan. Tapi gaji setara upah tukang bangunan 1 hari.”

Tanggung jawab RT dengan penghargaan terhadap dedikasinya memang belum setimpal. Waktu yang tersita melayani warga mengalahkan Presiden sekalipun. Setiap saat setiap waktu setiap detik harus rela diganggu warga untuk urusan apa saja: Urusan KTP, keamanan, ngurus warga meninggal, tanda tangan pengurusan kelakuan baik, pindah alamat, gotong royong, pengajian, BPJS, dan sebagainya. Tapi salah sedikit, diomeli warga. Pekerjaan baik tak dipuji, keliru sedikit dicaci.

Pekerjaan RT betul-betul memerlukan kesabaran level tinggi, keikhlasan level Nabi. Tak heran jika akhirnya banyak warga yang tidak mau diminta warganya jadi Ketua RT. Posisi yang sangat dibutuhkan warga dan membutuhkan waktu ekstra itu akhirnya lebih banyak diisi oleh warga lanjut usia.

Tapi tunggu dulu. Kisah sedih Ketua RT tersebut tidak berlaku di Purwakarta. Itu sudah jadi cerita masa lalu. Sejak bupati Purwakarta dijabat oleh Dedi Mulyadi, warga berebut jadi Ketua RT. Pemda Purwakarta memberi perhatian lebih pada abdi rakyat paling depan tersebut.

Pada Tahun 2015 ini Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menetapkan honor ketua RT menjadi Rp 500 ribu dari sebelumnya Rp 150 ribu per bulan. Gaji itu diklaim tertinggi di Jawa Barat. Bahkan pencairannya pun yang biasa dibayar per triwulan diubah menjadi sebulan sekali. Kerennya, honor mereka dikirim via rekening.

Kang Dedi, sapaan akrab bupati menjelaskan, kenaikan ini merupakan bentuk penghormatan pemerintah terhadap pengabdian para RT, RW, dan perangkat desa yang selama ini tak kenal pamrih. Dia berharap, kenaikan gaji mampu mendongkrak kinerja menjadi lebih baik.

“Jangan ada lagi problem di masyarakat. Mereka harus kembali mengaktifkan siskamling, kerja bakti, menjaga lingkungan, meminimalisir adanya gizi buruk dan kematian ibu hamil,” ujar Kang Dedi.

Namun jika berleha-leha, pihaknya akan memberikan sanksi berupa penghentian gaji selama satu tahun.

“Saya bisa meningkatkan gaji mereka setelah seluruh dasar pembangunan terjamin. Elektrifikasi listrik tahun ini 100 persen, infrastruktur selesai, sekolah baik, bahkan seminggu sekali bisa memberikan telur ke seluruh siswa untuk membantu perbaikan gizi,” kata dia.

Selain itu, honor ketua RW, yang semula hanya Rp 250 ribu per bulan, ikut naik menjadi Rp 525 ribu. Tidak hanya honor para ketua RT dan RW, honor 186 kepala desa juga dinaikkan menjadi Rp 2,6 juta per bulan yang semula 1,5 juta per bulan. Tidak sampai situ para perangkat desa termasuk para kepala dusun pun kecipratan rejeki tinggil. Perangkat desa yang semula mendapatkan gaji Rp 600 ribu kini Rp 1,5 juta per bulan.

Ade bandi, Ketua RTdi Desa Cianting Sukatani mengaku senang honornya dinaikkan. “Bisa menambah biaya rumah tangga,” katanya.

Ia pun berterimakasih kepada Bupati Dedi karena sudah sangat memerharikan mereka. Bahkan dia berharap agar orang nomor satu di Purwakarta itu menjadi Bupati Purwakarta seumur hidup.

“Seumur hidup aja jadi bupatinya. Supaya masyarakat Purwakarta semakin sejahtera. Kalau saja aturannya boleh lagi nyalon bupati, saya jamin pa Dedi akan jadi lagi,” tuturnya.

Sementara, Ketua RW dari Kelurahan Nagrikelar juga menyambut gembira. “Saya sangat terbantu. Program ini sangat pro rakyat. Saya doakan agar Kang Dedi tetap konsisten dengan kebijakan-kebijakan yang brilian dan sangat menyenangkan masyarakat ini,” ujar dia.

Hal senada sidampaikan Kades Cianting Sukatani Bah Adang. Ia mengaku beruntung mempunyai atasan seperti Kang Dedi. “Peran RT dan RW itu sangat vital. Semua persoalan di kelurahan/desa semuanya berhulu di RT dan di RW. Jadi saya sangat senang ketika program ini digulirkan. Saya janji akan lebih semangat mengabdi kepada masyarakat!” tandasnya.

Di Purwakarta, saat ini ada 3.238 Ketua RT, 1.059 RW, 475 Dusun, 183 Desa, dan 17 Kecamatan.

Oleh: Imron Ibon

Leave a Reply

Your email address will not be published.