Iket Dedi Mulyadi Bupati Purwakarta

dangiangkisunda.com – “Iket” merupakan selembar kain yang dibentuk sedemikian rupa dan digunakan sebagai penutup kepala. Di tatar Sunda biasa disebut dengan totopong, iket, ataupun udeng (istilah udeng hampir sama yang kita temukan di Bali). Pemakaian iket berkaitan dengan kegiatan sehari – hari ataupun ketika ada perhelatan resmi seperti upacara adat dan  musyawarah adat.

Tidak ada bukti tertulis mengenai sumber sejarah tentang penamaan iket atau yang sekarang disebut rupa iket. Akan tetapi dalam perkembangan zaman, penamaan untuk rupa iket menjadi bagian dari kebudayaan yang mengandung nilai dan makna tersendiri.

Penamaan atau rupa iket dikategorikan sesuai zamannya, yaitu iket buhun (kuno) dan iket kiwari (sekarang). Untuk iket buhun sendiri ada yang berupa bentuk iket yang telah menjadi warisan secara turun – temurun dari para leluhur, ada pula rupa iket yang lahir dari kampung adat. Sementara itu, untuk iket kiwari, iket tersebut merupakan rekaan dari beberapa orang yang memiliki rasa kebanggan terhadap budaya iket dan kreativitas dari nilai kearifan lokal.

Bahkan beberapa rupa iket kiwari itu sendiri masih memiliki ciri yang mengacu pada pola rupa iket buhun. Beberapa nama rupa iket buhun yang dikenal oleh sebagian besar umumnya adalah Barangbang Semplak, Parekos Jengkol, Parekos Nangka, dan Julang Ngapak. Parekos atau paros memiliki arti “menutup” bagian atas kepala atau hampir membungkus.

Dalam perupaan iket, di dalamnya terkandung filosofi. Hal inilah yang membuat iket itu sendiri menjadi salah satu warisan leluhur yang mengandung nilai yang begitu tinggi adanya. Seperti filosofi yang terkandung dalam rupa iket Julang Ngapak yang konon dahulunya dipakai oleh para pandita kerajaan atau disebut purahita.

Filosofi yang terkandung di dalamnya berdasar kepada laku hirup seekor burung Julang/ Manuk Julang (Sundanese Wrinkled Hornbill). Tipe burung ini sebelum mereka mendapatkan sumber air tersebut, mereka tidak akan berhenti mencari. Karakter inilah yang diadopsikan menjadi simbol sekaligus filosofi dalam rupa iket Julang Ngapak, yaitu bahwa kita jangan pernah lelah mencari sumber kehidupan (ilmu, darma, dan jatidiri) sebelum mencapai hasil yang diinginkan.

Diluar rupa atau penamaanya iket Sunda sendiri mengandung nilai makna filosofi yang sangat agung. Filosofi yang dikenal dengan sebutan Dulur Opat Kalima Pancer. Dulur opat merupakan empat inti kehidupan yaitu Api, Air, Tanah dan Angin. dan Kalima pancer mengandung makna yaitu berpusat pada diri kita sendiri. Secara garis besar, Dulur Opat Kalima Pancer memiliki arti bahwa empat elemen inti tersebut terdapat pada diri kita dan berpusat menyatu sebagai perwujudan diri.

Mengenai iket kiwari yang telah berkembang saat ini, penamaan dan bentuk tetap berdasar kepada pola rupa iket buhun. Tanpa mengurangi nilai luhur dari warisan leluhur, begitu pun iket kiwari memiliki nilai – nilai filosofi di dalamnya. Hal inilah yang menjadi bagian Budaya yang bersifat kreatif, tetapi tetap memegang teguh nilai kearifan lokalnya. terutama di kalangan generasi muda. Mereka memiliki cara pandang yang berbeda dalam membentuk iket tapi tetap memiliki acuan terhadap satu garis penciptaan karya buhun (kuno).

Sampai sekarang pemakaian iket semakin populer terutama dikalangan remaja dan ini merupakan sebuah tindakan positif untuk lebih memahami budaya leluhur kita dan siapa jati diri kita. Hampir di setiap toko galeri kaos dan distro di kota Purwakarta khususnya banyak yang menjajakan iket – iket Sunda berbagai corak juga biasanya dijual juga pakaian komplit serta pernak-pernik Sunda seperti kalung kujang, pin kujang dan lain sebagainya.

Pelopor membudayanya pakai iket di Purwakarta ini diantaranya kang Dedi Mulyadi, Bupati Purwakarta. Dalam pandangannya, iket yang selalu digunakan Kang Dedi di kepala. Dinilai bermakna meleburnya keperibadian urang sunda dengan alamnya. Hal ini karena iket kepala memiliki filosofi yang dihayati oleh masyarakat sunda yakni bersenyawa dengan angin, seune (api), taneuh (tanah), cai (air).

Unsur-unsur utama kehidupan itu diikat menjadi satu di kepala. Menjadi suatu simbol, bahwa pemakainya diikat oleh falsafah-falsafah hidup yang dianutnya.

Falsafah hidup tersebut menjadi karakter kesundaan sebagai jalan menuju keutamaan hidup. Karakter sunda yang dimaksud adalah cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), singer (mawas diri), dan pinter (cerdas).

Dalam hubungan sosialnya, masyarakat Sunda pada dasarnya dilandasi sikap silih asih, silih asah, dan silih asuh. Artinya saling mengasihi, saling mengasah atau mengajari, dan saling mengasuh sehingga tercipta suasana kehidupan masyarakat yang diwarnai keakraban, kerukunan, dan kedamaian.‎

Kang Dedi, lebih senang menyebut iket yang dipakainya sebagai iket kiwari atau kekinian, yang lebih simple dan rapih sebagai bentuk improvisasi atau kreatifitas iket sunda yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kenyamanan masing-masing pemakainya.(hsr/amh)

Leave a Reply

Your email address will not be published.