image

dangiangkisunda.com – Kejadian perusakan Patung Pewayangan di Purwakarta, Kamis, 11 Pebruari 2016 mendapat sorotan tajam dari salahsatu Ulama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Marzuki Wahid. Sekretaris Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (LAKPESDAM PBNU) tersebut menilai, tidak ada alasan yang bisa diterima dengan pembakaran karya seni di kawasan Situ Wanayasa Kabupaten Purwakarta.

Bahkan menurutnya, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi justru patut dihargai karena prestasinya membawa Kabupaten Purwakarta dari yang sebelumnya tidak terpandang kini menjadi kabupaten cemerlang di Indonesia.

“Saya ingin mengingatkan kepada para perusak karya seni tersebut, bahwa kita ini hidup di Indonesia, bukan di Saudi Arabia. Saudi jelas mengharamkan patung, karena mereka mengikuti paham Wahabi. Ini Indonesia, ini Islam Nusantara, ini Islam yg rahmatan lil ‘alamin, Islam yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia, bukan Islam Wahabi. Islam Nusantara jelas menghargai tradisi, budaya lokal, peradaban Indonesia dan berkomitmen kuat untuk melestarikan dan mengembangkannya selagi  tidak bertentangan dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip keislaman,” teranya kepada Katakini.com, Jumat 12/2/2016.

Menurut Marzuki Wahid, apa dilakukan Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi tersebut tidak melanggar syariat Islam dan konstitusi negara. Dari sisi keislaman, karya seni  patung tersebut tidak ada larangan karena tidak ada unsur ash-shonam yu’bad atau  berhala yang disembah. Dan karya seni patung di Purwakarta tidak memenuhi unsur tersebut, melainkan hanya sekadar asesoris kota untuk keindahan.

“Kalau kita sering piknik ke Saudi Arabia, di sana juga banyak bangunan karya seni yang dipajang di arena publik yang menghiasi keindahan kota, seperti patung sepeda yangg dikenal dengan sepeda nabi Adam, al-Qur’an, pedang, bangunan-bangunan antik dan seterusnya. Sebagai aksesori kota, bangunan seperti itu sama sekali tidak ada larangan. Yang dilarang dalam perspektif Islam adalah apabila pembuatan patung atau karya seni itu dimaksudkan untuk sesembahan, atau dalam perspektif yang kolot, bila patung itu menyerupai persis makhluk hidup seutuhnya. Tapi tidak masalah bila patungnya tidak utuh seluruh tubuh, atau di bawahnya dilobangi. Nah, di Purwakarta itu patung wayang. Wayang bukan manusia, bukan makhluk hidup, melainkan tokoh fiktif. Karena itu tidak ada masalah, dan tidak ada hubungannya jika dikaitkan dengan shonam yu’bad, atau berhala sesembahan itu,” terangnya.

Marzuki Wahid justru mengapresiasi positif apa yang dilakukan Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi karena sebagai bupati telah banyak peduli gerakan keislaman berhaluan Islam-Nusantara. Menurutnya, bukan hanya karya seni yang dirawat melainkan juga gerakan kebudayaan lain seperti sekolah ideologi kebangsaan pancasila, aksi-aksi kerakyatan yang memberi manfaat bagi warga lapisan bawah dan juga mendakwahkan nilai-nilai kearifan lokal.

“ Islam Nusantara memegang teguh kaidah fiqhiyyah al-‘adatu muhakkamatun (tradisi bisa dijadikan hukum) dan ats-tsabitu bil ‘urfi ka ats-tsabiti binnashshi (penetapan hukum dengan dasar tradisi sama kuatnya dengan penetapan hukum dengan dasar al-Qur’an n al-Hadits). Oleh karena itu, Islam Nusantara sangat menjunjung tinggi tradisi, budaya lokal, dan peradaban Indonesia. Saya melihat Bupati Purwakarta adalah penganut Islam Nusantara, sehingga wajar sekali bila dia sangat menghargai tradisi, hingga menjadikan tokoh pewayangan sebagai Kabupaten Purwakarta,” pungkasnya. (Sumber: katakini.com)

One Response

  1. Hari

    Allah SWT akan memberkati rumah dan tempat-tempat yang tidak ada benda menyerupai makhluk hidup, berarti kalau ada benda yang mernyerupai makhluk hidup, tempat (rumah, kota dll) tidak mendapat berkah Allah SWT. Kasihan masyarakat Purwakarta.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.