dangiangkisunda.com – Tadi malam tepatnya (selasa malam 22/08) Pemkab Purwakarta menggelar acara Tablig dan Dzikir Akbar di Taman Pesanggrahan Purwakarta. 

Secara khusus Bupati Purwakarta, menyampaikan kesannya yang dikutip dari akun Facebook Dedi Mulyadi. Berikut paparannya. 

Semalam kami melaksanaan Dzikir dan Tabligh Kebangsaan bersama Abah Maulana Habib Luthfi bin Yahya, ulama kharismatik asal Pekalongan

Saya sangat tertegun ketika Abah Habib menyampaikan beberapa penjelasan tentang tradisionalisme dan kearifan budaya 

Beliau menyampaikan bahwa pohon aren memiliki manfaat anti radiasi nuklir. Rumah dengan ijuk itu anti petir dan tali ijuk merupakan penangkal serangan binatang buas.

Ternyata seluruh kearifan itu telah lama saya gunakan sebagai pola tata bangunan di Kabupaten Purwakarta. 

Bangunan kantor mulai berijuk. Tali ijuk juga digunakan sebagai pelengkap bangunan di berbagai kantor desa yang semuanya bersumber dari kekayaan alam yang kita miliki. 

Dalam diri, saya sangat merasa bahagia dan cukup bangga terhadap apa yang diwariskan oleh leluhur Sunda dalam melakukan pengelolaan lingkungan yang berbasis kearifan.

Seorang ulama besar dengan keluasan pandangan dan kedalaman ilmu ternyata sangat memahami kearifan budaya yang dimiliki oleh masyarakat Sunda. 

Ketika pagelaran dilaksanakan, Abah Habib cukup memberikan apresiasi terhadap penataan musik dan tari yang kami sajikan. 

Beliau begitu menikmati seluruh rangkaian syair dan nada yang tersaji diiringi oleh irama gemericik air dan warna-warni cahaya. 

Abah Habib mengisi ceramahnya dengan menjelaskan makna tangga nada “do re mi fa so la si do” juga “da mi na ti la da” yang membentuk 12 tingkatan oktaf, penyatu kemanusiaan dari berbagai sisi, dimana pun dia, orang mana pun dia dan Agama apa pun dia. 

Selesai acara, Abah bermain musik dan bernyanyi bersama lagu “Padang Bulan” dan Shalawat Nabi sebagai bentuk refresentasi kecintaan terhadap Rasulullah SAW. 

Abah pun sempat mengatakan bahwa 12 tingkatan tadi itu adalah puncak bagi seorang vokalis atau musikus untuk mencapai kesempurnaan tertinggi. Sungguh penuh makna. 

Ada ungkapan yang “pikaseurieun”, entah dari mana asalnya, angka 12 sering dianggap angka sial bagi orang Sunda lewat ungkapan “cilaka 12”. 

Tetapi, menurut saya, itu makna filosopi mendalam tentang Sunda. Bahwa siapapun yang tidak bisa menapaki 12 tingkatan tadi itu, maka akan celaka. 

Kedua filosopi ini tidak bertentangan sama sekali, malah justru memiliki kesamaan, jika dimaknai.(red)

Leave a Reply

Your email address will not be published.