wpid-3-4.jpeg

dangiangkisunda.com – Sosok Ibunya sangat menginspirasi Bupati Dedi Mulyadi. Bukan hanya memberikan spirit, tapi ide strategi memimpin.

Begini ceritanya. Kang Dedi anak bungsu sembilan bersaudara. Ayahnya, Sahlin Ahmad Suryana, mantan Tentara Prajurit Kader yang dipensiunkan muda akibat terkena racun tentara Belanda. Bisa ditebak, ekonomi keluarga ini tak beruntung, relatif pas-pasan. Besar pasak dari tiang.

Tapi entah bagaimana, sang Ibu, Karsiti, yang mantan aktivis Palang Merah Indonesia, tak pernah mengeluh kekurangan finansial kepada suaminya. Uang yang diberikan dari gaji selalu saja cukup untuk memenuhi kebutuhan “kesebelasan” anggota keluarga ini. Apa kuncinya? Keyakinan berpadu dengan manajemen yang apik.

Ya, meski wanita desa dan tak tinggi pendidikannya, ibu Kang Dedi lihai meramu manajemen keuangan keluarga. Pandai menentukan skala prioriras dan target belanja. Tak kalah dengan ilmu manajemen keuangan modern.

Trik-trik manajemen ala ibunya inilah yang kerap menginspirasi Bupati Dedi selama memimpin Purwakarta. Logika Anggaran Belanja Pendapatan Daerah (APBD) dipelajarinya dengan seksama, agar tak kecolongan dalam menentukan skala prioritas. Ditambah dengan kekuatan keyakinan yang mantap. Setiap muncul ide program, nyali Bupati Dedi tak pernah gentar. Jika bawahannya mewanti-wanti soal kecilnya porsi anggaran yang tersedia, ia selalu berujar: pasti bisa terealisir, yakin ada jalannya! Dan ternyata itu bukan omong kosong. Selalu saja ada jalan bagi Kang Dedi untuk mewujudkan program-program impiannya.

“Kalau tidak bermodalkan keyakinan, kita akan pesimis terus-terusan. Pemimpin tidak boleh melihat deretan angka (anggaran), tanpa ada keyakinan. Banyak yang hanya terjebak pada logika angka, bukan logika keyakinan. Pemimpin pegang uang 1 triliun bisa memakmurkan rakyat? Tidak aneh buat saya. Yang “aneh”, kalau cuma punya anggaran 1 milyar tapi bisa mensejahterakan rakyatnya. Ini baru namanya pemimpin. Dan pemimpin model ini tidak akan muncul, kecuali dengan kekuatan keyakinan. Saya selalu berestimasi dengan keyakinan”, ujar kang Dedi.

Menurut Kang Dedi, pemimpin harus bisa membangun keyakinan rakyat yang dipimpinnya. Pemimpin harus mampu “menghipnotis” rakyat untuk mengatakan “bisa” pada sesuatu yang sebelumnya diangggapnya “tidak bisa”.  Untuk bisa melakukan itu, pemimpin musti masuk ke dalam pikiran rakyatnya, untuk merombak paradigmanya. Membalikkan pesimisme menjadi optimisme, keraguan menjadi keyakinan, dan keputusasaan menjadi kemantapan.

Sepanjang perjalanan hidupnya, tak terhitung kali Kang Dedi merasakan sihir keyakinan. Bayangkan saja, tak pernah terlintas dipikirannya, dirinya yang berasal dari pelosok Desa Sukasari-Subang, dari keluarga level bawah, pendidikan pas-pasan, bisa dipercaya menjadi seorang bupati, dua periode pula. Bagi Kang Dedi, jalan takdir ini mustahil jika tidak dituntun obor keyakinan. (Afriadi, Rakyat Merdeka)

Leave a Reply

Your email address will not be published.