dangiangkisunda.com – Puncak acara Hari Jadi Purwakarta ke 48/185 malam ini Sabtu (27/8) berlangsung meriah. Ratusan ribu warga masyarakat tumpah ruah di pinggir jalan untuk mengikuti acara bertajuk ‘World Ethnic Festival’ ini. Acara ini diisi oleh pawai etnik kebudayaan dari Taman Pembaharuan, Jl Veteran menuju Taman Pesanggarahan Padjadjaran di Jl Mr Dr Kusumaatmadja Purwakarta. Tidak kurang dari 10 Negara sebagai perwakilan dari berbagai benua di dunia turut memeriahkan acara yang menjadi penutup seluruh kegiatan Hari Jadi Kabupaten yang terkenal dengan Air Mancur Taman Sri Baduga tersebut.

Sebagai pembuka acara, kereta kencana Ki Jaga Raksa tampak keluar dari halaman Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta di Jl Veteran. Kereta yang pernah membawa bendera pusaka dari Monas menuju Istana pada peringatan Hari Kemerdekaan tersebut, ditarik oleh empat ekor kuda yang didatangkan secara khusus atas kerjasama pihak pemerintah daerah Purwakarta dengan TNI dan POLRI.

Tak lama setelah kereta kencana bersiap di hadapan Patung Gus Dur untuk memulai pawai, terlebih dahulu disajikan tarian bernuansa etnik yang menceritakan tentang mata pencaharian orang Sunda yang berfokus pada sektor agraris. Selain tarian tersebut, tersaji juga tarian tentang Prabu Siliwangi yang selama ini sudah menjadi ikon Kabupaten Purwakarta dalam mengamalkan nilai-nilainya melalui konteks kebijakan pemerintah daerah.

Bupati Purwakarta yang langsung memimpin pawai tersebut dalam sambutannya mengatakan bahwa manusia tidak pernah bisa dilepaskan dari unsur etnik. Malah menurut dia justru karena unsur etniklah manusia dapat bertahan hidup karena darinya terbangun nilai-nilai kebudayaan dan peradaban.

“Etnik itu identitas kemanusiaan, darinya manusia membangun kebudayaan dan peradaban. Sehingga sejatinya tanpa hal yang bersifat etnik, kita belum menjadi manusia seutuhnya”. Kata Dedi.

Sebanyak 60 ekor kuda kemudian mulai bergerak menuju Taman Pesanggrahan Padjadjaran (Alun-alun Purwakarta) setelah sepanjang perjalanan disambut oleh antusiasme ribuan warga. Setibanya di taman yang juga menghadirkan nuansa etnik sunda karena terdapat ‘Leuit’ (tempat penyimpanan padi hasil panen orang Sunda) dan ‘Ranggon’ (Saung bambu tempat petani mengusir hama padi dengan menarik tali yang dipasangi kaleng atau plastik) itu, seluruh delegasi unjuk kebolehan satu per satu.

Delegasi Mesir menampilkan Kesenian ‘Tanoura’, sebuah tarian bernuansa sufi khas Timur Tengah yang kemudian diadopsi oleh Syaikh Jalaludin Rumi menjadi Tarian ‘Sema’. Delegasi Meksiko menghadirkan pertunjukan khas Suku Aztec yakni ‘Tlanextli Tlacopan Gorenka’. Sementara delegasi Selandia Baru membawakan sebuah tarian bernama ‘Pounamu’.

Delegasi dari Amerika Serikat pun nampaknya tidak ingin kalah unjuk gigi, dengan telaten mereka menampilkan tarian Suku Indian bernama ‘Houp’. Jepang tampil dengan seni ‘Nowadaiko’, sementara Rusia menampilkan tarian rakyat ‘Folk Dancing’. Semangat kebebasan anti politik ‘apartheid’ tercermin dari tarian yang dibawakan oleh delegasi Afrika Selatan.

Delegasi Australia menghentak seluruh penonton yang hadir dengan ‘Aboriginial Dance’. Penonton pun dibuat berdecak kagum dengan penampilan dari Tiongkok  yang menghadirkan Kung Fu ‘Shaolin’. Sementara delegasi Indonesia tampil memukau dengan tarian ‘Jaipong’ yang dipadukan dalam balutan musik kontemporer.

Komentar dari penonton pun bermunculan. Reza Aditya (26) warga DKI Jakarta tidak mampu menyembunyikan kekagumannya atas suguhan kesenian etnik ini. Dia mengaku sudah merencanakan sejak jauh-jauh hari untuk datang secara khusus ke Purwakarta karena melihat promo acara melalui media sosial Facebook.

“Luar biasa sekali ini acara, kesenian dari Indonesia bisa satu panggung dengan kesenian-kesenian dunia. Saya kira ini positif untuk menunjukan bahwa bangsa kita juga punya khazanah kebudayaan yang kuat”. Pungkas Reza yang datang bersama semuabanggota keluarganya itu. (amh)

Leave a Reply

Your email address will not be published.