dedi mulyadi dangiang ki sunda

dangiangkisunda.com – Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi sejak tahun 2003 sudah mengkampanyekan penggunaan pakaian sunda kepada masyarakat. Hal tersebut konsisten dilakukannya hingga saat ini.

Dalam kegiatan sehari-hari dan berbagai kesempatan resmi, Kang Dedi sapaan akrab beliau, selalu terlihat menggunakan pakaian sunda lengkap dengan iket di kepala.

Kegigihan Kang Dedi dalam mengkampanyekan pakaian sunda itu kini mulai menuai buahnya. Hujan apresiasi pun datang dari publik luas. Masyarakat yang sebelumnya mengganggap Kang Dedi gila dengan pakaian sundanya, kini berbalik bangga menggunakkan pakaian sunda dalam aktivitas sehari-hari mereka.

Saya berpendapat berbagai tradisi warisan leluhur masyarakat sunda mengandung simbol, makna dan jatidiri sebagai kearifan lokal. Di zaman millennium ini, warisan tersebut wajib dijaga kelangsungannya. “saya harus bertarung dengan peradaban lain untuk menjaga kewibawaan Sunda” begitu ujarnya.

Di era millennium ini budaya masyarakat tidak terlepas dari hantaman gempuran budaya asing. Sehingga sebagai pemimpin, langkah Kang Dedi yang gigih mengkampanyekan pakaian adat sunda dinilai sangat tepat.

Lewat kampanye pakaian sunda Bupati Dedi berjasa mengembalikan wibawa dan kebanggaan orang sunda.

Dengan selalu menggunakan pakaian sunda, teladan yang dicontohkan Kang Dedi adalah menjaga kelestarian budaya sunda. Tidak hanya simbol. Tapi sekaligus makna yang tertanam di dalamnya.

Misalnya, iket yang selalu digunakan Kang Dedi di kepala. Dinilai bermakna meleburnya keperibadian urang sunda (sebutan orang sunda, red) dengan alamnya. Hal ini karena iket kepala memiliki filosofi yang dihayati oleh masyarakat sunda yakni bersenyawa dengan angin, seune (api), taneuh (tanah), cai (air).

Unsur-unsur utama kehidupan itu diikat menjadi satu di kepala. Menjadi suatu simbol, bahwa pemakainya diikat oleh falsafah-falsafah hidup yang dianutnya.

Falsafah hidup tersebut menjadi karakter kesundaan sebagai jalan menuju keutamaan hidup. Karakter sunda yang dimaksud adalah cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), singer (mawas diri), dan pinter (cerdas).

Dalam hubungan sosialnya, masyarakat Sunda pada dasarnya dilandasi sikap silih asih, silih asah, dan silih asuh. Artinya saling mengasihi, saling mengasah atau mengajari, dan saling mengasuh sehingga tercipta suasana kehidupan masyarakat yang diwarnai keakraban, kerukunan, dan kedamaian.‎ (bon)

Leave a Reply

Your email address will not be published.