dangiangkisunda.com – Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menilai banyak orang yang salah kaprah dalam memaknai momentum 14 Februari dalam setiap tahunnya. Ia melihat, di hari yang oleh sebagian kalangan dikenal sebagai Hari Valentine ini, selalu banyak orang yang mendadak romantis.

Pemaknaan keliru Hari Kasih Sayang ini pun berdampak pada kehidupan sosial terutama anak-anak remaja, pria yang selalu mengenakan pakaian khas Sunda ini menyebut, eksploitasi seksualitas seringkali menjadi akibat negatif, dibandingkan dengan pemaknaan kasih sayang itu sendiri.

Menghindari pemahaman keliru yang terus berulang, Kang Dedi, sapaan akrabnya, hari ini Selasa (14/2) sengaja mengunjungi sepasang suami istri, Abah Ma’i (70) dan Mak Kasih (80), warga Kelurahan Munjul Jaya RT 17/09 Kecamatan Purwakarta.

Dalam kunjungan ini, Ia menekankan bahwa kasih sayang sudah seharusnya melahirkan suasana saling melengkapi diantara pasangan.

“Boleh dilihat kondisi rumahnya, semi permanen, mereka sudah 27 Tahun menikah, meski belum dikaruniai keturunan mereka tetap saling mengasihi dan saling menyayangi, tidak sok romantis, tapi ini romantis beneran,” katanya sambil berbincang dengan sepasang kekasih renta itu.

Selain itu, Dedi mengungkapkan bahwa tidak perlu sikap ekspresionis dalam menunjukan kecintaan terhadap pasangan. Ia mengajak agar para pasangan muda meneladani Abah Ma’i dan Mak Kasih yang santai dan kalem dalam menjalani pernikahan tetapi berlangsung awet.

“Abah dan Emak ini, meski tanpa merayakan hari valentine, pernikahan mereka rukun dan awet,” katanya menambahkan.

Abah Ma’i sendiri sehari-hari berprofesi sebagai tukang pijat keliling, berbekal sebilah tongkat, ia menyusuri jalan dan gang kecil di wilayah Kecamatan Kota Purwakarta untuk mencari pelanggan.

Dalam sehari, kakek yang penglihatannya terganggu sejak lahir itu memperoleh uang rata-rata Rp20 ribu – Rp50 ribu.

Sementara itu, istrinya, Mak Kasih, membantu menambah penghasilan keluarga dengan menekuni profesi sebagai buruh tani.

Saat ditanya resep pernikahan agar selalu rukun, sambil tersenyum Mak Kasih berujar bahwa cinta dan saling pengertian lah yang menjadikan mereka tetap bersama hingga kini.

“Cinta pokok nya mah, sareng nampi saayana kaayaan carogè, jodo mah kan teu aya nu apal. (Cinta pokok nya, dan menerima keadaan suami apa adanya, karena jodoh tidak ada yang mengetahui),” ujar Mak Kasih.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Dedi memberikan hadiah kepada pasangan renta itu berupa perbaikan rumah lengkap dengan tempat tidur baru, dan paket sembako yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. (red)

Leave a Reply

Your email address will not be published.