image

dangiangkisunda.com – Bupati Purwakarta, Kang Dedi Mulyadi memiliki karakter yang khas tentang visi kepemimpinannya. Begitulah kira-kira.

Saat banyak pemimpin di Indonesia berlomba-lomba ingin menjadi yang paling modern dan populer, Kang Dedi Justru kembali ke Khittah Jadul “Jaman dulu/ masa lalu: kebudayaan.

Padahal banyak yang menganggap “isu ini tidak populis. Saat banyak gubernur, bupati, atau walikota dinegeri ini menganggap kebudayaan itu simbol kekolotan, kang Dedi justru menganggapnya sebagai simbol kemajuan.

image

Ya, baginya kebudayaan adalah pondasi terpenting menuju masa depan Indonesia dan dunia. Kebudayaan adalah konpas penuntun tujuan ke kemajuan.

Masuk ke antah berantah modernisme tanpa dibekali fundamental kebudayaan, jati diri pasti terombang ambing seperti huih di lautan. Akan tersesat tanpa tahu arah. Sebaliknya: jika sudah kuat mental budayanya, bisa-bisa jadi jagoan di ajang global.

Bagi kang Dedi, kebudayaan juga identitas atau jati diri. Kemodernn yang tidak ditopang oleh identitas akan membuat sebuah bangsa atau negara seperti tubuh tanpa ruh, badan tanpa jiwa. Laksana hantu gentayangan.

Dalam persfektifnya, modernitas hanyalah alat. Persoalan “baju” saja. Menjadi modern bukan beraeti membuang identitas. Buat apa menjadi modern jika tanpa identitas. Kemodernan yang bersendikan kebudayaan itulah kemodernan yang sebenarnya.

image

Modernitas harus membuat identitas semakin kuat, bukan justru luntur terbawa arus budaya lain. Teknologi harus ditempatkan tak lebih dari sekedar alat, bukan sebagai tujuan.

Jika masuknya teknologi dan pengaruh dari luar mengacak-ngacak sendi-sendi kebudayaan, itulah pertanda ambruknya sebuah negara atau daerah. Dalam kamus kang Dedi: Ini tidak boleh terjadi!!! (hsr)

Leave a Reply

Your email address will not be published.