Siswa Purwakarta dengan bangga memperlihatkan tas buatan tangan mereka sendiri.

Siswa Purwakarta dengan bangga memperlihatkan tas buatan tangan mereka sendiri.

DangiangKiSunda.Com – Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, terus menunjukkan keseriusannya menanamkan budaya bangga memakai barang buatan sendiri dan menjauhkan warganya dari budaya berbau konsumerisme dan hedonisme seperti memakai barang-barang mewah.

Sebelumnya, Bupati sukses menerapkan kebijakan pembuatan tas sekolah “Hand Made” bagi pelajar. Semua pelajar di Purwakarta memakai tas hasil karya orang tuanya atau karyanya sendiri. Kini kebijakan pembuatan tas hand made diwajibkan bagi PNS di wilayahnya.

Di hadapan pengurus dan anggota Dharma Wanita dan PKK Purwakarta (15/9), Bupati mewajibkan istri pegawai negeri sipil yang tergabung dalam Dharma Wanita dan PKK di Purwakarta menujukkan keterampilannya membuat tas buatan sendiri. Tas ini wajib digunakan suami mereka untuk bekerja ke kantor.

“Hentikan pembelian tas bermerek dan mahal, mari memakai tas daur ulang buatan sendiri,” kata Dedi Mulyadi.

Dedi kini sudah membiasakan diri menggunakan tas kerja kaneron khas Sunda yang terbuat dari daun rami model Papua. “Memberikan contoh,” kata bupati yang sehari-hari mengenakan pakaian khas sunda pangsi berwarna putih lengkap dengan iket(ikat kepala) itu.

Penggunaan tas kerja bagi PNS dan istrinya tersebut, menurut Dedi, telah dicontohkan oleh pelajar SD-SMA. Mereka sudah lebih dulu memakainya dan membuatnya dari bahan daur ulang dengan keterampilan tangan sendiri.

Kebijakan Dedi Mulyadi ini terbilang sukses dan memiliki pengaruh kuat, baik bagi para pelajar yang saat ini sudah bangga menggunakan tas buatannya sendiri ke sekolah hingga para pegawai yang juga menggunakan tas buatan para istri mereka.

“Jadi pagawe kudu mere conto keur barudak. Geura eureunan meuli tas nu marahal jeung boga merk. (Jadi pegawai harus memberi contoh kepada anak-anak. Hentikan kebiasaan membeli tas mewah dan bermerk,” jelas Dedi.

Menurutnya, ini penting. Selain mengikis sikap konsumerisme,  juga bisa merangsang kreativitas semua orang sekaligus memupuk percaya diri bahwa kita juga mampu berkarya sekecil apa pun.

Nina Meinawati, salah seorang pengurus Dharma Wanita Purwakarta, merespons positif titah bupati tersebut. “Ya baguslah, kami jadi belajar merajut lagi yang sudah lama ditinggalkan,” ujarnya sambil tersenyum. Ia juga mengaku tak keberatan atas adanya instruksi memakai tas daur ulang itu. “Enggak masalah.”

Untuk mencari dan menemukan desain yang pas dalam pembuatan tas kerja daur ulang tersebut, Kang Dedi, panggilan akrab Bupati, menggelar lomba pembuatan tas daur ulang tingkat kecamatan hingga Kabupaten. Juaranya akan dijadikan contoh buat tas seragam karyawan dan pejabat pemkab. (DKS)

Leave a Reply

Your email address will not be published.