Penyanyi Charlie Van Houten didampingi Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi bernayi di hadapan ratusan murid SMAN 3 Purwakarta, di halaman SMAN 3 Purwakarta, Senin (25/5/2015) pagi.

Penyanyi Charlie Van Houten didampingi Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi bernayi di hadapan ratusan murid SMAN 3 Purwakarta, di halaman SMAN 3 Purwakarta, Senin (25/5/2015) pagi.

DangiangKiSunda.com – Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mengubah wajah pendidikan Purwakarta selama tujuh tahun kepemimpinannya di Purwakarta.

Pendidikan yang semula terlalu formalistis, kaku, kini menjadi pendidikan yang lebih bersahabat, menyejahterakan keluarga, manusiawi dan berwawasan lingkungan.

Agar siswa bisa mendapat waktu lebih banyak dengan keluarga, seluruh siswa SD hingga SMA negeri, hanya menjalani sekolah selama lima hari dari Senin hingga Jumat.

“Itu agar mereka punya waktu bersama keluarga pada hari Sabtu dan Minggu,” ujar Dedi di Purwakarta, Jumat (29/5/2015).

Pendidikan kata dia, tidak boleh memisahkan anak dengan keluarganya. Karena bagaimanapun, kata Dedi, keluarga merupakan sarana pendidikan utama.

“Pendidikan budi pekerti tidak hanya di sekolah, tapi juga di rumah, bersama keluarga,” ujarnya. Pendidikan di Purwakarta juga mengurangi beban biaya para orang tua siswa dengan kebijakan larangan pedagang berjualan di sekolah.

“Sehingga orang tua tidak perlu terbebani biaya bekal untuk siswa di sekolah. Jika dalam sehari satu siswa dibekali Rp 10 ribu, karena di sekolah tidak ada jajanan, maka orang tua dalam satu bulan bisa menghemat Rp 300 ribu, di samping menghindarkan siswa dari makanan yang tidak sehar penyebab diare,'” ujar Dedi.

Untuk memenuhi kebutuhan gizi para siswa, ia juga mengeluarkan kebijakan penyediaan susu dan telur setiap hari Jumat untuk para siswa.

“Telur dan susu itu jadi salah satu faktor penentu kecerdasan anak, kami ingin anak-anak Purwakarta ini jadi generasi cerdas di kemudian hari,” katanya.

Pemkab Purwakarta selama dipimpin Dedi juga telah membangun 126 toilet di dalam 126 di sekolah dasar negeri. Kemudian sebanyak 79 toilet dalam satu kelas pada jenjang pendidikan SMP.

Kemudian tahun ini, untuk menghemat anggaran, 80 SD yang berada di kawasan perkotaan akan digabungkan. “Anggaran yang bisa dihemat bisa mencapai Rp 280 juta,” ujar Dedi.

Selain tanam pohon, pelajar laki-laki harus memiliki tabungan. Tabungan tersebut, bukan berbentuk uang. Melainkan, berbentuk hewan ternak. Anak-anak, bisa beternak ayam, itik, domba, kambing atau apapun.

“Terpenting, ternaknya memiliki nilai ekonomis.Sedangkan anak perempuan, dia harus bisa melakukan pekerjaan yang mengusung feminisme. Seperti, menenun, merenda, menjahit, memasak, dan beres-beres rumah. Sehingga, anak-anak-anak ini memiliki aktivitas yang produktif,” ujar Dedi. (*)

Sumber: Tribunnews, 29 Mei 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published.