image

dangiangkisunda.com – Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Sunda, Hari ini Kamis (10/3) menggelar kegiatan “Sawala Basa Sunda” bertempat di Bale Citra Resmi Purwakarta. Acara yang mengambil tema “Palika Ngajar Basa Sunda Kalayan Gumbira” (Menyelami Mengajar Bahasa Sunda dengan Gembira. Red) ini menghadirkan seluruh Guru Mata Pelajaran bahasa sunda dari semua sekolah di Kabupaten Purwakarta.

Ketua Panitia Kegiatan, M Taufik saat ditemui oleh Humas Pemkab Purwakarta di lokasi acara mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan agar guru bahasa sunda dapat meningkatkan kualitas dan inovasi ketika mengajar. Menurutnya hal ini penting agar mata pelajaran basa sunda tidak terkesan membosankan. “metode pengajaran bahasa asing kan sangat banyak, nah basa sunda gak boleh kalah dong”. Kata Taufik dengan antusias.

Acara ini turut dihadiri juga oleh Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi sekaligus bertindak sebagai Keynote Speaker. Dalam paparannya Dedi mengatakan bahwa terdapat tiga hal yang dapat menjadikan sebuah bahasa diakui sebagai bahasa peradaban yakni ketika bahasa menjadi ideologi, ketika bahasa menjadi ilmu dan ketika bahasa menjadi simbol pergaulan. “karena kita ini orang sunda, maka kita harus percaya diri dengan bahasa sunda dan menjadikannya sebagai bahasa pergaulan”. Kata Dedi menjelaskan.

Pada kesempatan ini Dedi juga menjelaskan tentang posisi bahasa yang sebenarnya dapat menjadi ciri karakter wilayah sehingga semakin jarang sebuah bahasa digunakan dalam pergaulan maka semakin tidak terlihat karakter sebuah wilayah. “imbasnya hari ini orang sunda yang tinggal di Jawa Barat disebut oleh beberapa media sebagai daerah yang tidak memiliki akar karakter yang kuat karena bahasa sunda jarang digunakan, kalau pun digunakan hanya seminggu sekali setiap hari rabu saja, ini kan sebuah persoalan sebab harusnya digunakan setiap hari”. Jelas Dedi

Agar dapat diakui sebagai bahasa yang memiliki akar yang kuat, Dedi menegaskan kepada peserta acara agar bahasa sunda digunakan sebagai bahasa keilmuan misalnya dengan cara menggunakan bahasa sunda sebagai bahasa pengantar di sekolah. “para guru nanti bisa membuat bahasa sunda menjadi bahasa ilmu, nama-nama anatomi tubuh manusia misalnya harus mulai memakai bahasa sunda”. Tegas Dedi

Dedi menutup paparannya dengan arahan tentang metode pengajaran bahasa sunda di sekolah, Ia mengatakan bahwa guru bahasa sunda harus adaptif terhadap perkembangan zaman. “guru bahasa sunda harus mampu membuat pupuh yang disesuaikan dengan kondisi kekinian, misalnya buatlah pupuh yang menceritakan bahwa menggunakan motor ke sekolah itu dilarang, melawan orang tua itu tidak boleh”. Kata Dedi menutup. (amh)

Leave a Reply

Your email address will not be published.