Cak Nun Puji Tabligh Akbar di Purwakarta yang Padukan Islam dan Kebudayaan

dangiangkisunda.com – Cak Nun Puji Tabligh Akbar di Purwakarta yang Padukan Islam dan kebudayaan. Hal itu ia sampaikan saat  menjadi penceramah tabligh akbar dalam rangka memperingati HUT PGRI ke-70 dan Maulid Nabi Muhamad SAW.

Tabligh akbar yang digelar dengan konsep budaya sunda nan Islami ini dilaksanakan di pendopo kantor Bupati Purwakarta.

Pagelaran tabligh akbar ini mendapat pujian dari budayawan Islam Emha Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Cak Nun. Menurut Cak Nun, perpaduan antara Islam dan kebudayaan adalah hal yang harus beriringan.

“Islam tidak dapat dilaksanakan secara kaffah (menyeluruh) tanpa kebudayaan, malah seharusnya menurut saya keduanya harus berjalan beriringan. Apa tidak sadar bahwa masjid, sajadah, baju, merupakan produk budaya,” ucap Cak Nun di Pendopo Bupati Purwakarta, Sabtu (12/12/2015).

Cak Nun juga berpesan kepada umat muslim bahwa sebagai manusia kita tidak boleh memvonis seseorang itu kafir atau syirik. Dia menjelaskan, karena manusia merupakan mahluk yang beriman, maka yang bisa memvonis seseorang apakah dia syirik atau kafir merupakan kehendak Allah.

“Ada dua wilayah dalam agama, ada mahdhoh dan mu’amalah. Mahdhoh jangan lakukan apapun kecuali yang diperintahkan, kalau disuruh jangan diubah. Muamalah rumusnya apa saja kecuali yang dilarang ya silahkan lakukan. Soal syirik itu kan haknya Allah yang mengetahui syirik, kufur hanya Allah yang punya hak bukan oleh manusia,” tuturnya.

Cendikiawan muslim ini juga membahas soal seni Bupati Dedi dalam mempercantik Purwakarta. Dia mengatakan, pembangunan patung-patung di Purwakarta merupakan seni dan tidak melanggar atau menyimpang dari ajaran Islam.

“Patung dan konsep yang dibangun adalah hanyalah muamalah, asal tidak melanggar kaidah mahdhoh yakni kita sembah-sembah,” pungkasnya. (amh/bon)

Leave a Reply

Your email address will not be published.