Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi seusai berbicara di forum International Young Leader Assembly, Selasa (18/8), di Assembly Hall, Markas Perserikatan Bangsa-Bangsa, New York, Amerika Serikat. Ia menjelaskan tentang penerapan pendidikan berbasis budaya Sunda di Purwakarta

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi seusai berbicara di forum International Young Leader Assembly, Selasa (18/8), di Assembly Hall, Markas Perserikatan Bangsa-Bangsa, New York, Amerika Serikat. Ia menjelaskan tentang penerapan pendidikan berbasis budaya Sunda di Purwakarta

DangiangKiSunda.Com – Konsep pendidikan berkarakter berbasis kearifan tradisional pedesaan Sunda yang diterapkan di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, menarik perhatian dunia. Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi diundang International Young Leader Assembly atau IYLA untuk memaparkan inovasi itu di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa, New York, Amerika Serikat, Agustus lalu.

Itu merupakan pertama kali seorang bupati mewakili Indonesia berbicara tentang budaya Sunda di forum PBB. Bupati Dedi diundang IYLA untuk berpidato di hadapan sekitar 700 peserta perwakilan dari 90 negara di Assembly Hall, Markas PBB, Selasa (18/8).

Wakil Direktur Eksekutif IYLA Magali Careces menyatakan, pihaknya mengundang Dedi karena tertarik dengan sosoknya dalam memimpin Kabupaten Purwakarta. “Ia memiliki visi yang kuat dalam membangun daerah, terutama dalam visi pembangunan spirit budaya lokalnya,” tutur Magali melalui surat elektronik, pertengahan Agustus lalu.

Magali menilai, Purwakarta merupakan salah satu kota terbaik di Indonesia. Ini dilihat dari keutuhan budaya dan inovasi yang berkolaborasi menjadi sumber semangat membangun masyarakat. Dedi dinilai mempunyai komitmen kuat membangun generasi muda produktif dan membawa perubahan sosial.

Magali mengatakan, pihaknya selama beberapa tahun memantau perkembangan kota-kota yang ada di dunia, salah satunya di Indonesia. Purwakarta, menurut dia, mengalami kemajuan pesat dalam pembangunan, apalagi kabupaten ini unik dalam mengangkat budayanya sendiri. Ini dapat dilihat dari berbagai media yang sering menampilkan event budaya berskala internasional setiap tahun.

“Kami mengetahui berita mengenai perkembangan Purwakarta dari sekretariat ASEAN di Jakarta, Kedubes AS di Jakarta, dan beberapa NGOs. Sejumlah media di Indonesia juga selalu melaporkan dan menayangkan tentang acara kebudayaan di Purwakarta,” katanya.

Informasi yang dihimpun Kompas menyebutkan, saat berpidato mewakili Indonesia, Dedi Mulyadi menggunakan baju dan celana pangsi putih khas Sunda, lengkap dengan ikat kepala. Ia menjelaskan tentang penguatan tradisional pedesaan melalui sistem pendidikan berkarakter Sunda sebagai basis kekuatan masyarakat.

Konsep itu sebagai upaya memperkuat ekonomi berbasis budaya, peternakan, perikanan, pertanian, kehutanan, dan industri kreatif. Pemerintah Kabupaten Purwakarta membangun masyarakat melalui sistem berbasiskan budaya, di mana desa dibangun dengan kekuatan tradisi lokal yang kuat.

Ketahanan bangsa

Untuk memperkuat hal itu, dibuatlah Peraturan Bupati tentang Pendidikan Berkarakter, yang di dalamnya berisi pola membangun kekuatan generasi yang mandiri dan produktif. Seperti sekolah dimulai pukul 06.00, membuat tas sekolah sendiri, dan bersepeda. Teknologi informasi dan komunikasi dijadikan bagian dari penyempurnaan penguatan terhadap basis tradisi itu sehingga desa memiliki daya saing pasar.

Selama ini, ungkap Dedi, pemakaian teknologi hanya menjadi sarana konsumtif, termasuk di pedesaan. Akibatnya, terjadi pemborosan di kalangan warga desa, bahkan warga desa menjual tanahnya hanya untuk mengejar komsumtif semata. Pedesaan akhirnya kehilangan daya dukung sebab lahan produktif tidak lagi dimanfaatkan untuk pangan.

Akhirnya, warga desa harus membeli bahan pokok, seperti beras, telor daging, bahkan jengkol. Oleh karena itu, desa harus dijaga basis budayanya agar menjadi bagian dari ketahanan terutama dalam menjaga kekuatan bangsa. “Apabila basis budaya desa kuat bisa menjadi media relaksasi masyarakat kota, dan negara akan maju sehingga terjadi harmoni peradaban yang seimbang,” katanya.

Ia menambahkan, generasi muda harus memegang teguh basis budaya bangsanya. Sebab, kepemimpinan muda berbasis budaya merupakan dasar untuk membangun daya saing bangsa.

Di Amerika Serikat, Dedi juga berkesempatan berbicara di Kedutaan Besar Republik Indonesia dan narasumber di Voice of America (VoA) yang disiarkan televisi dan radio setempat.

Paparan mengenai penerapan pendidikan berbasis kebudayaan Sunda di Purwakarta mendapatkan apresiasi dari sejumlah ilmuwan dunia. Banyak ilmuan yang ingin meriset pendidikan di Purwakarta, terutama dalam menerapkan pendidikan yang berbasis kebudayaan Sunda. “Mereka tertarik untuk meneliti, dan saya persilakan mereka datang ke Purwakarta,” ujar Dedi melalui surat elektronik.

Kabupaten inovatif

Dalam tiga tahun ke depan, Pemkab Purwakarta bertekad mewujudkan daerah ini menjadi kabupaten inovatif. Pemkab sudah menyiapkan strategi untuk menggolkan kabupaten itu sebagai kabupaten inovatif, termasuk melakukan revolusi budaya. Berbagai olimpiade yang memamerkan produk buatan sendiri siap digelar. Pemkab sudah menyiapkan dana Rp 30 juta untuk hadiah peragaan busana buatan sendiri.

Bulan Desember mendatang, akan digelar olimpiade mode tas buatan sendiri. Berikutnya diselenggarakan olimpiade ternak, olimpiade industri rumahan dan industri kreatif lainnya. (DEDI MUHTADI)

Sumber: Kompas Cetak, 7 September 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published.