Dedi Hidupkan Budaya Sunda

DangiangKiSunda.Com – Tradisi Sunda selalu ditonjolkan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. Dalam berbagai penampilan, Dedi terlihat mengenakan iket atau totopong, penutup kepala khas Sunda. Berbagai kegiatan kebudayaan juga terus diselenggarakan di kabupaten tersebut. Mulai pawai tumpeng, parade beduk, parade egrang, hingga pawai cetok.

Menurut Dedi, kegiatan-kegiatan yang berbuah penghargaan Muri itu tidak semata-mata seremonial. Melainkan terdapat nilai-nilai kebudayaan dan filosofis. ”Seperti egrang, bagi orang Jawa Barat, mempunyai makna ketahanan seperti ketahanan air, ketahanan udara, ketahanan bumi, dan keseimbangan. Egrang itu naik ke atas sehingga ketika orang di atas harus selalu melihat ke bawah,” kata bapak dua anak itu.

Kemudian, cetok merupakan representasi dari kemahatunggalan Tuhan yang disimbolkan pada bentuk ujung kerucut cetok. Dia mengakui, banyak budaya Sunda yang saat ini diterapkannya. Sebab, pada dasarnya, pembangunan mesti didasari kedaerahan. Karena itu, dalam pembangunan apa pun, budaya harus dijadikan fondasi. ”Karena saya orang Sunda, hidup di tatar Sunda, wajib hukumnya saya menggunakan budaya Sunda dalam melakukan pembangunan,” ujar suami Anne Ratna Mustika itu.

Meski demikian, budaya harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Dia mencontohkan keberadaan minimarket yang tidak bisa dibendung. Yang bisa dilakukan adalah mewajibkan minimarket di Purwakarta menjual produk-produk asli Purwakarta.

Di Purwakarta, Dedi juga mewajibkan anak-anak sekolah membawa makanan dari rumah hasil masakan orang tua yang terjamin kebersihan dan kesehatannya. Dengan demikian, anak-anak di lingkungan sekolah tidak perlu jajan. ”Anak-anak itu diarahkan untuk menabung uang jajannya,” kata Dedi.

Sumber: JawaPos, 09/02/2015, Judul oleh DangiangKiSunda.

Leave a Reply

Your email address will not be published.