dangiangkisunda.com – Siapa tak mengenal Abdurrahman Wahid atau biasa disapa Gus Dur? Tentu mayoritas
tahu. Pemikiran presiden ke-3 RI ini nyeleneh dan ngeyel. Terkadang butuh dua tiga hari agar bisa membaca arah kebijakan buah pemikirannya.

Gus Dur telah wafat. Tapi pemikirannya tetap hidup. Gusdurian, begitulah sebutan para penerus pemikirannya sudah marak menjalar, menular. Tak terkecuali hinggap ke Bupati Purwakarta kang Dedi Mulyadi.

Ya, Bupati Dedi bahkan menyebut dirinya seorang Gusdurian. Ia senang menerapkan logika terbalik dalam setiap pengambilan keputusan dan kebijakan yang ia ambil.

Sejauh ini lancar-lancar saja kebijakannya. Jika menilik awal ia duduk di kursi wakil bupati. Banyak pola pikirannya yang tak bisa langsung dipahami
masyarakat. Ia menularkan virus “*balik ka lembur*” (pulang ke kampung). Pro kontra bermunculan karena dianggap nyeleneh. “Wong enak di kota kok
malah disuruh ke kampung, nyawah”. Begitu pikiran pendek warga saat itu.

Alih-alih surut, Dedi makin menggila. Ia mencoba blusukan ke kampung-kampung agar masyarakat sejalan dengan pikirannya. Sebagai orang cerdas, Dedi tentu paham tak bisa memaksakan begitu saja. Merubah pola
pikir itu susah. Dan susah bukan berarti tidak bisa.

Keyakinan itulah yang mendorongnya selalu blusukan. Apalagi langkah itu dinilai tepat, karena pekerjaan seorang wakil bupati tak banyak seperti bupati. Semakin menyelami pikiran warganya, kang Dedi seakan semakin menyerap dan paham apa yang harus dilakukannya agar bisa sejalan.

Soal “wong deso”, Dedi lahir dari keluarga sederhana di sebuah pedesaan. Masa kecil hingga remaja yang sulit menjadi dasar jika ia paham kesulitan warganya. Tak perlu diajarkan lagi “rasa” sulit itu karena sudah
mengalaminya bahkan mendarah daging. Buktinya, sampai sekarang Bupati Dedi dari pakaiannya saja tidak parlente atau glamour. Cukup ikat dan celana pangsi setiap hari. Hal itu yang justru melahirkan indra keenam bernama “rasa” di setiap kebijakan pembangunannya hingga saat ini.

Yang berubah adalah pola pikirnya yang semakin sulit dicerna. Saat kebijakannya membuat patung, baru satu patung saja berdiri sudah didemo warga karena dikhawatirkan syirik. Bukan malah takut, ia makin suka dan cinta mendirikan patung. Hingga sekarang dijumpai sejumlah patung di setiap sudut kota. Kesan indah, artistik dan etnik yang muncul. Bukan klenik apalagi musyrik karena tak ada satu pun warga Purwakarta yang menyembah patung buatan Dedi Mulyadi.

Begitu pun kebijakannya soal iket kepala dan baju pangsi. Pakaian sekolah diubah. Nama sekolah pun diubah menjadi nama-nama tokoh Sunda.

Termasuk idenya yang melawan arus seperti ketidaksukaannya terhadap Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Semua PAUD di Purwakarta dihentikan karena dianggap meninggalkan peran orang tua dan seakan mengekploitasi anak yang dituntut harus cepat bisa dalam segala hal. Nyeleneh kan? Itulah mengapa ia disebut Gusdurian. Bagi sebagian orang, ia Gusdurian muda di tanah Sunda.(bon)

Leave a Reply

Your email address will not be published.