Dangiangkisunda.com – Ada satu hal yang harus kita koreksi dari perjalanan bangsa ini, adalah kebiasaan kita menganggap sesuatu itu tidak boleh berubah. Saya terus menerus melakukan perubahan dengan satu pemikiran esensi dari tujuan Negara tidak boleh berubah.

Esensi dari tujuan negara adalah kemakmuran, karena dengan kemakmuranlah kita bisa tumbuh menjadi nefgara yang berdaulat dan dihormati oleh bangsa lain. Itulah esensi yang tidak boleh hilang dari semangat kebangsaan kita.

Sering kali kita terjebak dalam kerangka berfikir yang simbolisasi, berbeda sudut pandang dengan cara menghormati itulah yang menjadi pembahasaan kita dalam setiap saat. Tetapi, kita melupakam esensi dan tujuan lebangsaan itu sendiri.

Yang tidak boleh bergeser dari bangsa ini adalah tujuan bernegara, harus melindungi selruh bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukankesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa. Itulah yang tidak bergeser dari kita.

Sering kali kita sangat tegak dan gagah menyembah simbol-simbol negara, tetapi kita melecehkan dan meninggalkan tujuan dari negara itu sendiri. Itulah yang terjadi, bukan hanya dalam konsepsi kebangsaan, tetapi itu juga terjadi dengan pemahaman keagamaan.

Kita tidak boleh salah dalam cara shalat, tidak boleh salah dalam bacaan. Tetapi esensi dari agama rahmatan lil alamiin, melindungi semua umat manusia pengisi langit dan buminya yang terlihat dan tidak terlihat, itu kita lupakan. Sehingga, kita sering berkata orang berkatacinta atas nama Tuhannya, sambil membunuh berdasarkan keyakinannya. Inilah yang hilang dari semanga keagamaan kita.

Kita perlu mengajarkan bahwa sang Saka Merah Putih itu ibarat gula dan kelapa, karena sang saka merah putih itu gula dan kelapa, maka kita tidak boleh kehilangan pohon-poho kelapa kita yang mulai hari ini diganti oleh anak-anak muda.

Kelapa yang tumbuh tegak hari ini semuanya adalah titipan dari kakek nenek kita. Pertanyaannya adalah, apakah kita hari ini menanam pohon kelapa untuk anak cucu kita kelak? Apakah kita mewariskan swasembada gula pada suatu saat? Apakah kita dalam setiap saat menanam dan menanam?

Pada hari ini, yang terjadi adalah orang gemar makan kelapa muda, tapi lupa menyiapkan kitri-kitri baru untuk bangsa kita. Inilah sesuatu yang ditinggalkan oleh kita. Merah Putih akan ada manakala gula dan kelapa ada, Merah Putih tidak akan ada kalau gula dan kelapanya tidak ada. Kalau gulanya impor, kelapanya impor, minyak impor, berasnya impor, ikannya impor, dagingnya impor, seluruh kebutuhan keluarganya impor, merah putih sebenarnya tiada. Yang ada hanya kain yang dihormati oleh kita dalam setiap saat kita sudah tidak ada dalam pencaturan dunia.

Mari maknai kemerdekaan dengan ketulusan jiwa. Mari kita hormatikemerdekaan dengan hal yag sangat sederhana. (red.dikutip dari Buku Spirit Budaya Kang Dedi)

Leave a Reply

Your email address will not be published.