dangiangkisunda.com – Kemeriahan rangkaian acara Hari Jadi Purwakarta ke 185 dan Hari Jadi Kabupaten ke 48 kembali berlanjut malam ini Sabtu (30/7). Setelah sukses menggelar ‘Sawala Karahayuan’ berupa Sidang Paripurna Istimewa di ruang terbuka yang dimeriahkan artis Ibu Kota Rabu (20/7) kemarin. Kali ini tema Sunda – Cirebon diangkat menjadi Festival untuk merekatkan persaudaraan antara dua daerah yang seringkali dianggap berbeda ini. Apalagi sejarah membuktikan pernah terjadi perselisihan paham antara Kerajaan Sunda dan Kerajaan Cirebon pada masa lalu.

Festival yang menghadirkan aneka kesenian Sunda – Cirebon berupa Tayub, Tarling, Lais, Topeng Banjet, Benjang, Wayang Golek, Ronggeng Amen, Domyak dan Badingdut ini dibuka langsung secara langsung oleh Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. Dedi yang hadir dengan pakaian khas Sunda yang biasa ia kenakan ini mengatakan bahwa Festival Tatar Sunda Cirebonan merupakan festival tahunan yang bertujuan melestarikan khazanah kebudayaan Sunda – Cirebon. Menurut dia, meskipun jenis kesenian yang ditampilkan berbeda, tetapi secara substansi nilai sarat akan persatuan dan persaudaraan.

7f32516f-06e2-4070-a7aa-c41af6c9e1d4 (1)

“Ini agenda tahunan kami setiap momentum Hari Jadi Purwakarta. Kita harus prihatin karena semakin sedikit masyarakat Sunda yang mau menggali khazanah kebudayaan. Di Jawa Barat, kita tidak bisa menafikan Cirebon, tidak bisa menafikan betawi, irisan kebudayaan khas Banten, dan tentu Sunda Priangan. Kita ini semua bersaudara”. Kata Bupati yang akrab disapa Kang Dedi tersebut.

Decak kagum dari pengunjung yang turut menyaksikan acara pun bermunculan. Ela Nurlaela (34) warga asal Cirebon Jawa Barat yang bekerja sebagai karyawan di salah satu sentra industri di Kabupaten Purwakarta mengatakan seluruh tampilan yang disajikan dalam acara ini membuat dia rindu kampung halamannya di Palimanan Cirebon. Menurut Ela, karena dirinya pergi merantau sejak 10 tahun lalu, ia jarang menyaksikan kesenian khas daerahnya.

7142bcce-a951-4c16-8923-e50c4a61ea38

“Merantau di Purwakarta itu serasa tidak merantau karena sudah seperti di rumah sendiri, setiap tahun ada sajian kebudayaan khas Cirebon. Tadi sempat ngobrol dengan seniman juga, betul-betul bikin betah pokoknya”. Kata Ela saat ditemui oleh Humas Pemerintah Kabupaten Purwakarta di pinggir panggung Kesenian Tayub.

Bukan hanya Ela sebagai warga Cirebon, Rizki (28) warga asal Pasawahan Purwakarta pun mengaku antusias melihat tontonan yang tersaji. Dia berangkat dari rumahnya di Desa Pasawahan Kidul setelah melaksanakan Shalat Maghrib karena tidak mau ketinggalan untuk mengikuti rangkaian acara.

11

“Ingin nonton wayang golek Kang, ada si Cepot yang selalu bikin ketawa, lumayan untuk hiburan daripada mencari Pokemon mah mending nonton ini, hiburan sambil mendalami budaya”. Ujar Rizki sambil tertawa.

Nuansa pembukaan acara Festival Sunda – Cirebonan ini pun bertambah unik karena dibuka oleh tarian teaterikal dengan menggunakan properti serba bambu sebagai penegasan bahwa masyarakat Sunda adalah masyarakat berperadaban bambu. (amh)

Leave a Reply

Your email address will not be published.