Oleh: Hadi Saeful Rizal

Harus kita akui. Zaman sekarang adalah zaman yang paling mengkhawatirkan dan penuh dilema untuk tumbuh kembang seorang anak terutama usia pelajar. Karena lingkungan tempat tumbuh si anak tak lagi bisa dijamin aman dari virus-virus negatif.

Yang paling ironis adalah ketika si anak yang tumbuh dalam penjagaan, pengawasan dan perhatian orangtua dalam aspek moral atau akhlak yang baik sekalipun, berpotensi untuk terbawa arus pergaulan negatif tempat si anak bergaul.

Hal ini seiring sudah semakin berkembangnya life style atau gaya hidup dikalangan pelajar. Perbup yang di lahirkan Kang Dedi dan dituangkan melalui Perbup nomor 71 tahun 2015, Peraturan yang melarang warung, toko, mini market menjual rokok kepada anak-anak di bawah umur. Yang akan diimplementasikan melalui peraturan desa (perdes) desa berbudaya.

Perbup nomor 71 itupun memuat larangan bagi orangtua untuk menyuruh anaknya rokok per 1 Oktober 2015 larangan merokok bagi pelajar dan anak di bawah umur serta melarang warung/mini market untuk menjual rokok kepada pelajar dan anak di bawah umur akan mulai diberlakukan Bupati. Kang Dedi beralasan aturan ini dikeluarkan untuk menghindari anak-anak atau generasi mendatang terpengaruh kepada hal-hal negatif.

“Atas kekhawatiran karena mudah sekali pelajar dan anak-anak membeli rokok maka saya membuat Perbup ini dengan melarang anak-anak merokok serta membelinya termasuk orangtua untuk tidak menyuruh anaknya membelikan rokok. Hal ini agar menjadi panduan agar orang tua untuk berani tegas melarang anaknya (pelajar/dibawah umur) untuk merokok selain menghambat perkembangan anak juga menjadikan anak konsumtif” ungkap kang Dedi.

Jika kita lihat dari aspek niat diterbitkannya aturan ini, maka upaya kang Dedi sebagai Bupati ini, setidaknya menjawab kondisi cukup meresahkannya budaya merokok dikalangan anak di bawah umur terutama usia pelajar. Sehingga sudah semestinya Perbup Purwakarta ini hadir dan didukung dalam impkementasinya demi anak-anak kita.

Tidak sampai disitu, yang perlu dicermati dalam Perbup ini mendorong seluruh stake holder di Purwakarta untuk menjadi benteng untuk anak-anak di bawah umur agar “ngeuh” dengan aturan ini. Dimulai dari rumah dimana peran penting orangtua yang tidak boleh menyuruh anak untuk dibelikan rokok, maka tak lain adalah bentuk sindiran kesadaran agar kita sebagai orangtua harus memberikan contoh yang baik untuk tidak merokok. Terlebih umumnya orang dewasa atau dalam hal ini orangtua sudah lebih dahulu faham dan tahu tentang bahaya merokok.

Tidak cukup disitu kang Dedi juga me-warning agar para pedagang eceran, kasir mini market, warung-warung di Purwakarta. Untuk bersama-sama, bahu membahu menjaga tidak diperjual belikan rokok untuk kalangan anak dibawah umur/ pelajar.

Bahkan saking seriusnya Kang Dedi berani dengan tegas akan memberikan sangsi bagi pelajar bandel yang berstatus perokok Aktif, dengan sangsi yang tegas seperti dikeluarkan dari sekolah. Namun tentu ada beberapa tahapan untuk kasuistik seperti ini, setelah si anak ikut program kelas rehabilitasi rokok dalam kurun waktu tertentu (kurang lebih 3 s/d 5 bulan).

Upaya kang Dedi dalam mendorong diterapkan aturan ini tentu harus di apresiasi sebagai bagian dari kepedulian dan langkah antisipatif dalam menjaga generasi masa depan bangsa ini, dengan memulai dari langkah riil yang mampu dilakukan sebagai aparatur negara. Agar kita tersadar, bahwa seluruh komponen mesti bersatu dalam implementasi aturan ini. Terlebih kebiasaan merokok biasanya pintu masuk untuk masuknya Miras dan Narkoba.

Sebelumnya kang Dedi juga mengeluarkan aturan larangan menggunakan sepeda motor bagi pelajar, terutama bagi pelajar yang belum memiliki SIM C, dan mendorong agar pelajar Purwakarta menggunakan sepeda Gowes yang menyehatkan.

Kemudian aturan mengenai jam malam bagi pelajar, aturan mengenai larangan pacaran, larangan peredaran Miras. Kalau di simpulkan aturan-aturan ala kang Dedi ini berupaya membentengi Pelajar dengan sangat masif. Jadi kalau disimpulkan aturan-aturan ala kang Dedi ini sudah mewakili harapan kita sebagai orangtua. Jadi mari kita saling mengingatkan, menegur demi terjaganya Generasi muda dari hal-hal yang negatif. (HSR)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.