Sejumlah utusan budaya dari beberapa negara hadir di Purwakarta World Festival yang digelar pada Sabtu (29/8) malam di Purwakarta, Jawa Barat. Festival ini diikuti oleh 1.000 seniman, termasuk dari 14 negara peserta. Mereka di antaranya datang dari Italia, Jepang, Meksiko, Turki, Mesir, Afrika Selatan, Kore

Sejumlah utusan budaya dari beberapa negara hadir di Purwakarta World Festival yang digelar pada Sabtu (29/8) malam di Purwakarta, Jawa Barat. Festival ini diikuti oleh 1.000 seniman, termasuk dari 14 negara peserta. Mereka di antaranya datang dari Italia, Jepang, Meksiko, Turki, Mesir, Afrika Selatan, Kore

DangingKiSunda.Com – Lem Pias, peserta asal Afrika Selatan, terpukau menyaksikan Festival Budaya Dunia yang berlangsung Sabtu (29/8) malam di seputar Kota Purwakarta, Jawa Barat. Ribuan orang seperti terhipnotis menyaksikan pawai budaya dan berbagai pergelaran seni yang digelar di kota kabupaten terkecil di Jawa Barat itu.

“Kami bangga ikut festival ini karena seni yang kami bawa merupakan pertama kali ditampilkan di luar Afrika Selatan,” katanya pada acara Festival Budaya Dunia (Purwakarta World Festival/PWF) yang diikuti 14 negara itu. Seni tari yang dibawa dari negara yang dulu terkenal dengan politik apartheid-nya itu membawa pesan khusus, yakni pembebasan perbudakan.

PWF diikuti 1.000 seniman, termasuk dari 14 negara peserta. Mereka di antaranya datang dari Italia, Jepang, Meksiko, Turki, Mesir, Afrika Selatan, Korea Selatan, India, Tiongkok, Filipina, dan Malaysia. PWF adalah puncak acara hari jadi ke-184 Kota Purwakarta dan ke-47 kabupaten.

Selain diikuti utusan negara lain, festival ini juga diikuti sejumlah daerah di Indonesia, seperti Bali, DKI Jakarta, Banten, Jawa Timur, dan Maluku. Beberapa kabupaten/kota di Jabar turut berkolaborasi sebagai satu kesatuan nilai luhur bangsa Indonesia.

Festival diawali dengan opening art dari padepokan Tari Suci Purwakarta dilanjutkan iring- iringan pasukan berkuda yang dipimpin Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi dan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Muspida). Selain disaksikan ribuan warga Purwakarta, banyak pula yang datang dari luar daerah.

“Sejak siang kami sudah di Purwakarta, ingin lihat ragam seni budaya, terutama dari luar negeri,” ujar Dandi, warga Subang, tetangga Purwakarta.

Dedi Mulyadi mengatakan, acara itu merupakan bagian dari upaya membangun khazanah dan transformasi kebudayaan. Tujuannya untuk mempersatukan budaya dari berbagai bangsa sebab setiap budaya di dunia memiliki kedudukan sama. “Kami juga ingin memperlihatkan kepada dunia bagaimana kayanya budaya negeri ini,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah kabupaten ingin mengenalkan bahwa Purwakarta merupakan daerah yang ramah dan selalu menjaga nilai kesundaannya. Pemkab ingin mengenalkan Purwakarta sebagai ikon kebudayaan Sunda kepada dunia. Pemkab ingin meningkatkan kepercayaan diri orang Sunda bahwa kebudayaan Sunda sama derajatnya dengan kebudayaan lain di dunia. Purwakarta pun diharapkan menjadi daerah yang ramah investasi.

Karnaval Budaya Dunia pada Sabtu malam itu dihelat di sepanjang Jalan Jendral Sudirman, pusat kota Purwakarta.

Dari Bandar Lampung dilaporkan, Gubernur Lampung Ridho Ficardo menyatakan, pihaknya masih lemah dalam pengemasan potensi wisata alam dan wisata yang berbentuk festival. Padahal, Lampung memiliki potensi wisata cukup besar, layak dinikmati dan dipromosikan di tingkat internasional.

Ridho mengatakan itu saat membuka gelaran Lampung Tapis Karnaval yang juga menjadi penutup rangkaian Festival Krakatau di Bandar Lampung, Minggu. “Lampung Tapis Karnaval dan Festival Krakatau ini sebenarnya hampir sama dengan Jember Fashion Carnaval dan festival di Banyuwangi. Namun, harus diakui, kami kalah di pengemasan,” ujarnya. (DMU/GER)

Sumber: KompasCetak, 31 Agustus 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published.